Media Aliansi Indonesia Edisi Ke-7

Adil itu artinya di tengah-tengah, jujur, lurus, tidak memihak. Dan secara terminologis (peristilahan) adil bermakna suatu sikap yang bebas dari diskriminasi dan ketidakjujuran.
Benar adalah sebagaimana adanya (objektif), lurus, sah. Sedangkan kebenaran terkait erat dengan data, fakta dan realita.

Semua orang bisa mengklaim dirinya telah berlaku adil. Semua orang dapat ngotot berkata bahwa dia telah bertindak atau memutuskan dengan benar. Bahkan setiap orang dapat pula menyatakan dirinya jujur dan semua yang dia katakan serta lakukan berdasarkan kejujuran.

Namun perlu difahami bahwa kejujuran, yang merupakan pondasi dari kebenaran dan dari kebenaranlah akan didapat keadilan, merupakan sesuatu yang abstrak. Untuk dapat menjadikan yang abstrak itu menjadi nyata perlu dilihat dari parameter-parameter yang dapat diverifikasi secara terbuka dan bersama-sama. Apa parameter-parameter tersebut? Parameter-parameter itulah yang disebut data.

Semua orang bebas saja mengklaim jujur, adil dan benar, namun pada akhirnya data-datalah yang nantinya akan menuntun kepada sebuah kesimpulan apakah seseorang benar-benar telah jujur, adil dan benar, atau sekedar mengklaim tanpa dasar yang bisa pertanggungjawabkan.

Benar atau kebenaran itu tidak bisa dilepaskan dari data, fakta dan realita. Data adalah sumber semua keterangan yang berupa perkataan atau perbuatan dan dokumen-dokumen. Fakta adalah hal, keadaan atau peristiwa yang sebenarnya. Apakah suatu hal, keadaan atau peristiwa itu merupakan fakta atau bukan, dapat diukur dari tingkat validitas data-data yang ada. Semakin banyak dan tinggi tingkat validitas data-datanya berarti semakin tinggi pula tingkat kemungkinan sesuatu itu merupakan fakta, begitupun sebaliknya. Sedangkan realita adalah rangkaian dari fakta-fakta yang saling terkait satu sama lain.

Dari analisa dan kajian terhadap data, fakta dan realita itulah bisa didapat kesimpulan apakah benar dan kebenaran itu keadaan yang sesungguhnya atau sekedar klaim belaka.
Kemudian jika terkait dengan keputusan serta tindakan, jika dasar dari keputusan atau tindakan itu sudah benar atau berlandaskan kebenaran, maka keputusan atau tindakannya pasti adil. Begitu pula sebaliknya, jika tidak berlandaskan kebenaran dengan sendirinya keputusan atau tindakannya tidak akan adil. Dari situ pulalah didapat kesimpulan dengan sendirinya apakah seseorang itu jujur atau tidak.

Penegakan Hukum Berlandaskan Keadilan dan Kebenaran

Kata “adil” dan “benar” atau “keadilan” dan “kebenaran” dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara konotasinya nyaris identik dengan persoalan hukum. Bahkan tidak sedikit pejabat Negara yang kerap berteriak lantang tentang penegakan hukum dan keadilan.

Dalam sistem kenegaraan di Republik Indonesia salah satu lembaga yang menjadi ujung tombak dalam penegakan hukum dan keadilan adalah Kejaksaan Republik Indonesia yang dipimpin oleh seorang Jaksa Agung yang dipilih dan bertanggung jawab kepada Presiden.

Kejaksaan dengan tugas dan kewenangannya sangat diharapkan dapat menjaga keserasian antara hak dan kewajiban antara pemerintah dan rakyat melalui tugas penuntutan dalam proses peradilan.

Kejaksaan adalah harapan sebagai filter utama untuk tegaknya keadilan dan kepastian hukum sebelum menuju lembaga peradilan. Di kejaksaanlah suatu proses hukum diharapkan dapat digodog dengan sungguh-sungguh berlandaskan kepada kebenaran, sehingga hasil dari proses di kejaksaan memiliki validitas dan nilai keadilan yang tinggi.

Kejaksaan atau Korps Adhyaksa sangat diharapkan menjadikan seloka ”Satya Adhi Wicaksana” sebagai landasan dan cita-cita dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. “Satya” itu artinya kesetiaan yang bersumber pada rasa jujur, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, terhadap diri pribadi dan keluarga maupun kepada sesama manusia. “Adhi” maknanya kesempurnaan dalam bertugas dan yang berunsur utama, bertanggungjawab baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, terhadap keluarga dan terhadap sesama manusia. Dan “Wicaksana” yaitu bijaksana dalam tutur-kata dan tingkah laku, khususnya dalam penerapan kekuasaan dan kewenangannya.

Jika setiap anggota Korps Adhyaksa berpegang teguh dan berlandaskan pada seloka ”Satya Adhi Wicaksana”, maka seberapapun besarnya tantangan dan hambatan yang dihadapi, keadilan dan kebenaran tetap akan selalu diutamakan. Sehingga setiap anggota Korsp Adhyaksa dapat berteriak dengan lantang dan bangga “WALAUPUN LANGIT AKAN RUNTUH, KEADILAN DAN KEBENARAN HARUS DITEGAKKAN!!!”

 

Populer
6
Sabtu, 21 Sep 2019  14:42