Media Aliansi Indonesia Edisi Ke-1

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang memiliki wilayah seluas 5.193.250 km2, di mana 3.273.810 km2 di antaranya atau sekitar 63% dari seluruh wilayahnya merupakan wilayah lautan, tentu menjadi kekayaan dan daya tarik sendiri. Dari kekayaan hasil laut sampai dengan pesona keindahan pantai-pantai serta gugusan pulau-pulaunya.

Indonesia adalah Negara kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau besar dan kecil yang terbentang dari Sabang di Aceh sampai Merauke di Papua. Data pada tahun 1972 disebutkan jumlah pulau di Indonesia adalah 17.508 pulau, di mana 13.466 pulau yang terdaftar dan berkoordinat.

Berdasarkan sensus Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, di Indonesia terdapat 1.340 suku bangsa dan 1.158 bahasa daerah dengan jumlah penduduk 237 juta orang. Hal itu menjadi kekayaan budaya dan keanekaragaman yang memperindah bumi Nusantara.

Namun di sisi lain, kondisi geografis dan demografi Negara Republik Indonesia yang demikian, potensi ancaman terhadap pertahanan dan keamanan Negara juga sangat tinggi. Tentu menjaga pertahanan dan keamanan Negara yang terdiri dari sedikit pulau dan wilayah yang kecil jauh lebih mudah. Tentu mempersatukan dan menciptakan harmoni penduduk yang hanya terdiri dari beberapa suku bangsa jauh lebih ringan.

Tingginya potensi ancaman terhadap NKRI bukanlah isapan jempol belaka. Secara logika sederhana, dengan jumlah pulau yang ribuan dan lautan yang membentang luas sudah merupakan celah masuk pihak luar yang menganga lebar, sehingga sangat diperlukan adanya pasukan dan armada laut yang tangguh maupun pasukan serta armada udara yang mumpuni.

Begitu pula dengan sebaran daratan-daratan yang tidak merata, baik luas daratannya maupun jumlah penduduknya, sudah pasti sangat diperlukan satuan teritorial yang handal dari pasukan dan armada darat, yang mampu bergerak cepat, tepat dan akurat. Yang mampu melakukan deteksi dini, melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk menjaga setiap jengkal tanah di wilayah NKRI.

Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang merupakan tulang punggung pertahanan NKRI, sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi harus memiliki alutsista (Alat Utama Sistem Pertahanan) yang dapat diandalkan untuk menangkal ancaman dari luar, serta memiliki prajurit-prajurit yang tangguh di semua aspeknya, baik untuk Angkatan Darat, Angkatan Laut maupun Angkatan Udara.

Akan tetapi dengan memiliki Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara yang tangguh tetaplah belum cukup. Karena selain ancaman dari luar (luar negeri), yang tidak kalah berbahaya ialah ancaman dari dalam sendiri. Baik pihak luar yang menggunakan tangan-tangan dari dalam, yang benar-benar berasal dari dalam, maupun perpaduan antara keduanya. Baik yang berupa terorisme maupun gerakan separatisme.

TNI membutuhkan rakyat. Bersama rakyat TNI kuat, karena TNI adalah anak kandung rakyat, dilahirkan oleh rakyat. TNI tidak boleh meninggalkan rakyat, sebaliknya rakyat sebagai orangtua kandung tidak bisa membiarkan TNI memikul beban sendirian, di mana beban itu sebenarnya bisa dipikul bersama-sama melalui kesepahaman dan mengerti posisi serta fungsi maupun tugas masing-masing.

Lembaga Aliansi Indonesia (LAI), sebagai lembaga yang lahir dari rakyat, untuk rakyat dan kembali ke rakyat, diminta atau tidak telah mengambil sebagian beban itu, yang dirumuskan melalui salah satu dari Tiga Pilar Aliansi Indonesia, serta dikemas ke dalam Motto Aliansi Indonesia, yaitu “Menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.”

“Untuk berperan aktif dan nyata dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia, Aliansi Indonesia tidak perlu diminta,” kata H. Djoni Lubis, Ketua Umum sekaligus pendiri Lembaga Aliansi Indonesia.

Di antara peran aktif LAI dalam menjaga NKRI, ialah seperti apa yang selalu disampaikan oleh H. Djoni Lubis kepada anggota dan pengurus LAI di berbagai kesempatan, yaitu “Stop dan Cegah LSM asing yang akan masuk ke Indonesia. Stop dan Cegah LSM dalam (negeri) yang menjual informasi ke luar.”

Menurut H. Djoni Lubis, hal tersebut bukan merupakan sikap paranoid, melainkan kesadaran dan kewaspadaan. Menurutnya, banyak pihak asing berkepentingan terhadap Indonesia baik dalam bidang ekonomi, geo-politik, maupun politik global, dan tidak ingin adanya situasi aman, damai dan tenteram di bumi Nusantara.

Jika tidak atau belum bisa masuk langsung untuk memaksakan kepentingannya, maka digunakanlah tangan-tangan di dalam negeri Indonesia, yang dapat mensuplai informasi sehingga celah-celah pertahanan Negara yang awalnya tertutup rapat dapat sampai di tangan mereka.

Selain itu, rakyat juga harus ditempa mental dan ideologinya, yaitu dengan diajarkannya kembali budi pekerti di tingkat Sekolah Dasar (SD).

“Budi pekerti adalah kearifan lokal nenek moyang bangsa Indonesia. Tanpa mengerti tentang budi pekerti, yang ada hanyalah generasi yang tercerabut dari akar budaya bangsanya sendiri, minder dengan nilai-nilai bangsanya sendiri, sebaliknya bangga dengan nilai-nilai dari luar,” ujarnya.

Kemudian tentang Pancasila, sangat penting untuk ditanamkan kepada setiap warga Negara, terutama generasi muda.

“Saat ini sangat banyak tidak hafal Pancasila saja. Apalagi untuk memahami, apalagi mengamalkan,” imbuhnya.

Dengan tertanamnya falsafah dan ideologi bangsa secara mendalam, akan lahirlah generasi yang memiliki rasa cinta terhadap tanah air, mempunyai jiwa nasionalisme, yang selalu siap bersama TNI untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Populer
6
Sabtu, 21 Sep 2019  14:42