Terdakwa Tjik Maimunah Dituding Penipu Dan Perampas Surat Tanah Milik Orang Tua Saksi Bambang

Terdakwa Tjik Maimunah Dituding Penipu Dan Perampas Surat Tanah Milik Orang Tua Saksi Bambang
Jumat, 02 Apr 2021  13:47   |   Dibaca: 830

PALEMBANG. Media AI − Sidang lanjutan kasus dugaan pidana memasukkan keterangan palsu ke dalam suatu akta otentik atas Terdakwa Tjik Maimunah yang mengaku pemilik Surat Pengakuan Hak (SPH) sedangkan saksi korban yang merasa dirugikan yakni Ratna Juwita Nasution pemilik Surat Sertifikat Hak Milik (SHM) tanah/lahan 16.900 M.

Pada persidangan kali ini di Pengadilan Negeri Palembang Klas IA Khusus Sumsel, sidang secara virtual, Rabu (24/03/21). Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kiagus Anwar SH, menghadirkan seorang saksi pemilik Surat Erfpacht, Bambang Yunarko (48) Jl. Sungai Rengit No7 Rt10 Rw05 Kel. Air Batu Talang Kelapa.

Sebagaimana fakta yang terungkap di persidangan, Mejelis Hakim Ketua Toch Simanjuntak SH Mhum, menanyakan kepada saksi Bambang. Kenapa saksi dihadirkan ke persidangan ini.

Menurut Saksi Bambang Yunarko, mau mengambil Surat Erfpacht milik orang tuanya, karena terdakwa Tjik Maimunah orang yang selama ini melakukan penipuan perampasan surat dan tanah. Orang tuanya.

“Tujuan saya datang kesini ingin mengambil surat Erfpacht yang ada di tangan jaksa sebagai alat bukti di penyitaan di polisi. Ibu Maimunah telah melakukan penipuan dan perampasan surat dan tanah selama 25 tahun milik orang tua saya,” pak Hakim terang saksi Bambang.

Lanjut saksi, memang benar bu Maimunah mendapatkan kuasa dari tahun 1987, tetapi dalam surat kuasa tertulis apabila ada jual beli, si pemberi kuasa wajib dihadirkan, namun sudah 25 tahun ibu Maimunah tidak menghadirkan si pemberi kuasa.

“Asal usul kepemilikan surat Erfpacht, dibeli Siti Wikayah dari Johan Agus Rebel, tahun 1960 melalui Notaris Pertama Kota Palembang Sipo Chang, Erfpacht terdiri dari 2 surat permoning 68 136. Dari lahan 53 Hektar, Siti Wikayah membeli dari Tuan Rebel, sejengkal tanah pun kami ahli waris tidak dapat memiliki tanah tersebut,”tegasnya dihadapan Hakim.

Ditanyakan hakim soal apakah pernah dicabut surat kuasa itu, dikatakan saksi Bambang, pernah dicabut surat kuasa itu, tahun 2003.

“Tahun 2011 anak ibu Maimunah bernama Ijjudin, pernah datang kerumah saya pukul 11 malam, ramai-ramai dia datang gedorin rumah saya dan mengancam ingin membakar rumah,”tandasnya dihadapan Hakim, seraya menirukan ancaman anak terdakwa, ‘kalau kau berani lagi masuk ke lokasi saya bakar’.

Untuk diketahui, dalam dakwaan JPU Kiagus Anwar SH, mengatakan bahwa Terdakwa Tjik Maimunah Dakwaan Pertama, perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 266 ayat (1) KUHP. Dakwaan Kedua Pasal 266 ayat (2) KUHP. Dakwaan Ketiga Pasal 263 ayat (1) KUHP. Dakwaan Keempat Pasal 263 ayat (2) KUHP.

Secara Terpisah diluar persidangan, termasuk pemilik Lahan di Sertifikat Induk SHM tanah/lahan 16.900 M. yang tidak dihadirkan sebagai saksi didalam persidangan korban penyerobotan tanah Ratna Juwita Nasution oleh terdakwa Tjik Maimunah, yakni Rojak Bahtum (82) warga Lr. Suka Darma 4 Sekip Ujung, mengatakan Lahan ini mulai dikuasainya di bulan Juli tahun 1980, sejak itu tanah dia patok pakai kayu gelam, dikuasakan kepada pak Ponco yang letak tanah 50 meter dari tanahnya.

“Luas tanah saya 582 meter², belinya dari Mustopa Haribun yang bekerja di Biro Pembangunan Dispenda Provinsi Sumsel, Sertifikatnya atas nama H Mansyur bin Ibrahim. Dia dikuasakan ke Mustopa Haribun untuk di jualkan, jadi kami belinya dari Mustopa Haribun, saya sering kesitu karena dekat dengan Mustopa Haribun dan tidak ada masalah dari tahun 1990,” ungkapnya kepada media ini.

Tanah tersebut dibeli secara kredit dari pegawai Dispenda Provinsi karena Rojak Bahtum pensiun tahun 1995, namun menurut Rojak Bahtum, dari tahun 1980 sampai tahun 1995, tanah tersebut tak pernah ada masalah.

“Jadi pembelian tanah itu secara kolektif. Kalau ada teman-teman yang tidak tahu mengenai tanah tersebut datang menemui saya, lalu saya hantarkan ke pak Mustopa Haribun untuk mematok tanah mereka tersebut,” ujarnya.

“Saya kenal dengan ibu Ratna dari saudaranya Akib Arsalan, yang membeli tanah 2 kapling dihibahkan ke ibu Ratna untuk dibuat pesantren. Namun saya juga tahu tanah saya diserobot di tahun 2015, tahu dari ibu Ratna Juwita karena lokasi tanah Saya di Plaju dekat dengan rumah ibu Ratna, sedangkan saya pulang ke Sekip Ujung,” ungkapnya.

Lanjut Rojak Bahtum, Tanahnya itu di urus sama pak Ponco keluarganya H Mansyur bin Ibrahim setelah pak Ponco meninggal diteruskan anaknya bu Mursiyem. Namun kenyataannya tanah miliknya itu sudah di pagar beton oleh Tjik Maimunah (terdakwa,red).

“Atas kejadian itu saya langsung melapor ke Polresta Palembang sampai 2 tahun berjalan dan tidak ada tanggapan, lalu melapor ke Polda Sumsel diproses namun saya hanya dijadikan saksi saja, di kasusnya ibu Ratna Juwita Nasution. Namun pelaporan saya dilimpahkan kembali Polresta, kasus saya kembali mandek,” kenangnya.

“Yah diproses juga namun ketika mau mengukur tanah didamping oleh orang BPN, 10 polisi perpakaian preman ini bukannya mau mendatangi Tjik Maimunah minta bukakan pagar, eh malah memanjat pagar. Petugas mengaku tidak bisa mengukur karena tanah penuh air, belakangan petugas itu bilang ibu Ratna mau mengukur, samakan saja dengan harinya dengan bu Ratna, kata petugas tersebut,” jelas Rojak Bahtum.

Disampaikan Rojak Bahtum, setiap orang muda datang ke Lahan tersebut, kabar yang dengarnya bahwa, Tjik Maimunah ini punya preman dan anaknya komandan preman, jadi teman-temannya pada takut. “Namun saya ini bukannya berani karena saya ini sudah tua, apabila mereka bawa parang saya tidak takut. ‘kenapa kamu kesini ini kan tanahnya Tjik Maimunah, kata orangnya Tjik Maimunah, saya katakan boleh saja, kamu ada surat saya juga ada surat, yah biarlah kita berurusan dengan pihak yang berwajib, polisi, jaksa, hakim. kalau kamu bacok saya, tentu kalian ditangkap polisi. Anak saya ini seorang polisi,” pungkas bapak yang putranya seorang Kombes di Mabes Polri ini.

Pada pemberitaan sebelumnya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memerintahkan seluruh jajaran Polri untuk tidak ragu dalam mengusut tuntas kasus mafia tanah di seluruh Indonesia. Hal tersebut juga sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

"Karena masalah mafia tanah menjadi perhatian Bapak Presiden, saya minta untuk jajaran tidak perlu ragu proses tuntas, siapa pun bekingnya," pungkas Sigit. (Syf/234Din)

Berita Terkait
Populer