Penghargaan PT. MUM, Muara Enim, Perlu Dikaji Ulang

Penghargaan PT. MUM, Muara Enim, Perlu Dikaji Ulang
Selasa, 16 Jul 2019  14:30   |   Dibaca: 1,726

Prestasi yang dicapai oleh PT Manggala Usaha Manunggal (MUM) yang merupakan salah satu Sub Bussines Unit dari Titan Infra Energy (TIE) Group, perlu di kaji ulang,14/07/2019.

Menurut Nofa Ketua Aliansi (Dpc) Muara enim, Meskipun pada waktu itu Gunawan Pujianto SKM MK3 selaku HSE Coorporate Manager PT Titan Infra Energy (TIE) Group, Sempat menyampaikan penghargaan yang diberikan merupakan apresiasi terhadap keberhasilan suatu perusahaan dalam menjamin kelangsungan pengelolaan keselamatan pertambangan dan lingkungan pada perusahaan pertambangan mineral dan batubara.

Pada 2016 lalu Pt.Manggala usaha Manunggal (MUM), barhasil meraih prestasi berupa penghargaan” katagori pertama” dari kementrian ESDM-Deeiktur jendral Mineral dan batu bara Republik Indonisia, menurut saya peribadi sangat perlu di kaji ulang, karena apa yang kita lihat oleh masyarakat dan di alami tak semulus apa yang di baca dalam penghargaan tersebut.

PT MUM, sebelumnya mendapatkan nominasi untuk turut serta dalam kegiatan penilaian ini pada tahun 2016. Dimana, penilaian prestasi keselamatan dilakukan pada tanggal 21 – 23 Juni 2016 dilokasi kerja PT MUM – Project Bara Anugrah Sejahtera (BAS) di lokasi Tambang PT BAS, Desa Pulau Panggung, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muaraenim.

Dan penghargaan ini diberikan pada pertengahan tahun 2017 oleh Kementrian ESDM – Direktorat Jendral Mineral dan Batubara RI. Penghargaan ini, telah digulirkan oleh Kementrian ESDM – Direktorat Jendral Mineral dan Batubara RI sejak tahun 1992 lalu. tuturya.

Ujang, salah satu warga yang lahannya hancur terkena longsor akibat dari kegiatan tambang tersebut, kini haya bisa pasrah dan tidak bisa berbuat apa” Saya cuma berharap pihak perusahaan mengganti lahan kami yang telah rusak, bukan saya saja pak, dia kembali menjelaskan kepada awak media, Masih ada 12 kk lagi yang terkena dampak dari kegiatan tersebut, dan yang kami khawatirkan kalo musim hujan datang semua akan hancur.

Masih kata Ujang, Sebenarnya kami kecewa dengan perusahan tersebut karena Lahan kami jadi korban sementara warga di sini kalo tidak salah baru satu orang yang kerja di perusahaan tersebut Masyarakat cuma bisa jadi penonton.

Dan sampai saat ini kami belum terima satu sen pun dari perusahaan walaupun tanah kami telah hancur.

Sementara dari pihak perusahaan belum berhasil di temui, utuk di mintai keterangan atas keluhan masyarakat tersebut. [Nov]

Berita Terkait
Populer
8
Kamis, 01 Ags 2019  03:10
9
Rabu, 31 Jul 2019  01:59