Meneguhkan Persatuan Indonesia Melalui Semangat Sumpah Pemuda

Meneguhkan Persatuan Indonesia Melalui Semangat Sumpah Pemuda
Senin, 28 Okt 2019  14:56   |   Dibaca: 1,920

Indonesia adalah bangsa yang sangat majemuk (beragam, plural), berdasarkan sensus BPS tahun 2010 ada lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa di Indonesia, atau tepatnya 1.340 suku bangsa, serta terdapat 1.158 bahasa daerah.

Begitupun dengan wilayah Negara Republik Indonesia, terdiri dari 17.504 pulaudi mana 16.056 pulau telah dibakukan namanya di PBB hingga Juli 2017.

Jika suku-suku bangsa dengan berbagai macam bahasa yang menempati ribuan pulau itu bersatu, persatuan tersebut tidak datang tiba-tiba. Ada sebuah proses panjang yang ditandai dengan berbagai peristiwa dan salah satunya adalah Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.

"Tidak ujug-ujug, tidak tiba-tiba bersatu menjadi satu bangsa dan negara. Ada proses gagasan, wacana, konsep, proposal dan pelaksanaan," kata Ketua Umum Aliansii Indonesia (AI) H. Djoni Lubis membuka pembicaraan tentang Sumpah Pemuda dan Persatuan Indonesia.

Menurt H. Djoni Lubis, bangsa dan negara Indonesia yang ada sekarang diawali dengan gagasan oleh Patih Gajahmada melalui sumpah saat diangkat menjadi Patih Kerajaan Majapahit yang terkenal dengan nama Sumpah Palapa. 

"Di situlah awal gagasan tentang Indonesia, yang saat itu dikenal dengan sebutan Nusantara," imbuhnya.

Bahwa kemudian perjalanan bangsa Nusantara itu harus melalui fase dijajah oleh beberapa bangsa Eropa, terutama Belanda yang menjajah selama 350 tahun, di situlah fase  wacana bangsa dan negara yang merdeka dari penjajahan.

"Oleh siapa? ya oleh para pejuang yang ingin lepas dari penjajahan, di antaranya Sultan Agung dan Pangeran Diponegoro di Jawa, ada Sultan Hasanudin di Makassar, Teuku Umar dan Cut Nyak Dien di Aceh, Pattimura di Maluku, dan sebagaianya," jelasnya.

Setelah wacana barulah memasuki konsep. Bahwa perjuangan untuk merdeka yang masih bersifat kedaerahan harus diubah dengan sebuah konsep yang mempersatukan sebagai satu bangsa. 

"Masa ini ditandai dengan dua peristiwa penting yaitu berdirinya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 yang kita peringati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, dan ikrar Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 yang kita peringati sebagai Hari Sumpah Pemuda," kata Ketua Umum AI.

Setelah konsep, barulah melangkah ke proposal yang disusun oleh PPKI (Pantia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) lalu berubah menjadi BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Proposal itu berupa rancangan UUD 1945, di mana dalam pembukaannya termaktup sila-sila dari Pancasila sebagai Dasar Negara," jelasnya.

Tahap selanjutnya adalah proklamasi oleh Soekarno-Hatta.

"Jadi prosesnya sangat panjang, penuh perjuangan dengan keringat, darah dan airmata selama beberapa abad. Sehingga sangat mahal jika persatuan dan kesatuan itu lalu terkoyak karena berbagai perbedaan dan pertikaian," lanjutnya.

Melalui semangat Hari Sumpah Pemuda, H. Djoni Lubis mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk meneguhkan kembali persatuan dan kesatuan sebagai bangsa dan negara Indonesia.

"Indonesia adalah bangsa dan negara yang unik. Pluralitas suku bangsa, bahasa dan juga agama itu perbedaannya tidak ditiadakan, namun justru harus diperkuat untuk menopang dan semakin merekatkan persatuan Indonesia," kata H. Djoni Lubis.

Keberagaman itu yang diikat dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika (Berbeda-beda namun satu jua), dengan kesadaran sebagai satu bangsa berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, di wilayah yang terbentang dari Sabang sampai Merauke namun disatukan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, di bawah panji yang sama yaitu Merah Putih.

"Jadi ayo kita rajut kembali persatuan yang telah terkoyak dengan berbagai egosentrisme kedaerahan, suku bangsa, bahasa maupun agama. Karena kita semua satu tumpah darah, satu bangsa dan satu bahasa: Indonesia," kata H. Djoni Lubis mengakhiri. 

Berita Terkait
Populer
Video