Meneguhkan Kembali Komitmen dan Kesetiaan Terhadap Pancasila

Meneguhkan Kembali Komitmen dan Kesetiaan Terhadap Pancasila
Senin, 01 Jun 2020  14:08   |   Dibaca: 1,629

Sejak tahun 2017 setiap tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai peringatan Hari Lahir Pancasila sekaligus hari libur nasional melalui Keputusan Presiden (Kepres) RI Nomor 24 Tahun 2016.

Penetapan tersebut berdasarkan peristiwa sejarah pidato Ir. Soekarno dalam sidang Badan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tanggal 1 Juni 1945.
Dalam pidatono Soekarno yang kemudian menjadi Presiden RI Pertama setelah Proklamasi itu menyampaikan ide dasar negara yang terdiri dari 5 (lima) azas atau sila dan disebut dengan “Pancasila”.

Sebelum sidang berakhir dibentuklah panitia kecil yang terdiri dari sembilan orang sehingga dikenal dengan sebutan “Panitia Sembilan”. Panitia Sembilan tersebut yang merumuskan kembali Pancasila berdasarkan isi Pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 itu.

Rumusan Panitia Sembilan yang disetujui tersebut kemudian dikenal dengan istilah “Piagam Jakarta”.

Namun rumusan Pancasila dalam Piagam Jakarta bukanlah rumusan yang final. Dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 18 Agustus 1945, diputuskan untuk melakukan perubahan pada sila pertama dari yang ditulis dalam Piagam Jakarta, sehingga rumusan lengkap Pancasila menjadi:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila tersebut, Ketua Umum Lembaga Aliansi Indonesia (LAI) H. Djoni Lubis mengajak seluruh elemen masyarakat Indonesia untuk meneguhkan kembali komitmen dan kesetiaan terhadap Pancasila sebagai dasar Negara dan falsafah bangsa.

“Pancasila bukanlah sesuatu yang lahir tiba-tiba. Akan tetapi melalui tahapan panjang yang digali dari berbagai ilmu, pengalaman maupun perjuangan bangsa Indonesia selama berabad-abad,” kata H. Djoni Lubis.

Ketua Umum LAI itu juga menyebutkan Bhinneka Tunggal Ika yang kemudian ditetapkan menjadi semboyang bangsa Indonesia sebagai bagian tak terpisahkan dari ruh Pancasila.

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang diambil dari kitab Sutasoma karya Mpu Tantular itu merupakan seruan agar tetap bersatu dalam perbedaan.

“Kemudian ada Sumpah Palapa Patih Gajah Mada yang bertekad mempersatukan bumi Nusantara,” imbuhnya.
Peristiwa monumental lainnya yang menjadi ruh Pancasila, H. Djoni Lubis menyebutkan peristiwa Kebangkitan Nasional Pada tanggal 20 Mei 1908 dan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

“Jadi Bung Karno adalah pencetus dan sekaligus membuat rumusan dasar sebagai dasar negara yang saat itu sedang dalam persiapan kemerdekaan yang dinamai dengan Pancasila,” paparnya.

Dengan melihat sejarah bangsa Indonesia, Pancasila merupakan bagian tak terpisahkan dari Negara Republik Indonesia, sehingga sudah seharusnya selalu digali nilai-nilainya, dipupuk terus-menerus pemahaman dan penghayatan terhadap Pancasila.

“Upaya apapun untuk mengubah apalagi menghapuskan Pancasila sebagai dasar Negara dan falsafah bangsa dengan demikian merupakan pengkhianatan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia,” jelas H. Djoni Lubis.

Meneguhkan kembali komitmen dan kesetiaan terhadap Pancasila, menurut H. Djoni Lubis, merupakan hal yang sangat mendesak, di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara yang semakin sarat dipenuhi dengan permusuhan dan perpecahan antar elemen bangsa maupun intoleransi antar umat beragama.

“Kita punya Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah bangsa. Ayo setiap perbedaan kita jadikan perekat yang memperkuat persatuan dan kesatuan. Ayo kita kembali kepada falsafah bangsa kita yaitu Pancasila. Kita Indonesia, Kita Pancasila,” pungkasnya.

Berita Terkait
Populer
5
Kamis, 25 Jun 2020  13:27
7
Kamis, 25 Jun 2020  15:55