Ikat Pinggang Bahan Dasar Kayu Arang jadi Potensi Andalan KKT

Ikat Pinggang Bahan Dasar Kayu Arang jadi Potensi Andalan KKT
Kamis, 05 Sep 2019  16:02   |   Dibaca: 684

Saumlaki, Media AI KKT - Salah satu karya seni kerajinan tangan yang berbahan dasar dari kayu hitam menjadi salah satu andalan yang mulai dipromosikan di Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Hal ini merupakan bentuk kepedulian dari seorang anak asli daerah Tanimbar yang merasa tergugah dengan kerajinan seni kayu hitam ini. Dia adalah sosok anak daerah yang sangat peduli dengan masyarakat yang berkekurangan.

Baldus Ratuanak adalah sosok anak daerah Tanimbar yang peduli dengan hasil kerajinan tangan, ini wujud keinginannya terkabul disaat Ia menjabat sebagai salah satu pejabat eselon pada Dinas Sosial Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Sejak lama keinginan ini terpendam dalam dirinya dan akhirnya atas izin Yang Maha Kuasa dirinya pun mendapat kesempatan untuk menyalurkan keprihatinannya dalam pengembangan usaha kerajinan tangan ini.

Berawal dari laporan masyarakat terkait dengan kondisi keberadaan para pengrajin kerajinan tangan diantaranya pengrajin berbahan dasar kayu hitam yang pernah menjadi warga binaan Rutan Saumlaki. Keluarga mereka terlantar walaupun mereka adalah bagian dari keluarga pengrajin kayu hitam. Ini juga tidak menutup kemungkinan berdampak pada kondisi pendidikan anak - anak tidak dapat bersekolah. Belun lagi kebutuhan makan dan minum setiap harinya dirasakan sangat susah.

Kondisi ini juga membuat mereka ( pengrajin kayu hitam) kurang fleksibel dalam proaea sosialisasi dengan masyarakat dan lingkungannya. Dalam kondisi yang labil seperti itu para pengrajin harus dibantu. Kemudian Ubaldus Ratuanak mulai melakukan kegiatannya dengan mengkonfirmasi pihak Rumah Tahanan Saumlaki, informasi yang didapat bahwa khusus warga binaan selama berada di Lapas mereka dibekali dengan berbagai keterampilan kerajinan tangan untuk menjadi bekal ketika mereka sudah bebas nanti.

" Nah persoalan mereka (pengrajin kayu hitam) adalah bagaimana memasarkan hasil produksi kerajinan tangan yang mereka hasilkan. Dan nantinya sapa yang mau beli, memang sudah ada yang beli tetapi sangat sedikit, akhirnya mereka kembali kerja kebun." kata Ubaldus Ratuanak, S. Fis. Kepala seksi pemberdayaan perorangan, keluarga dan komunitas adat terpencil, Dinas Sosial Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

Kendala lain juga dihadapi para pengrajin seperti modal, misalkan dalam membuat kerajinan tangan ikat pinggang memerlukan alat produksi seperti sawmil, gergaji, pahat dan skap, pada akhirnya karena kekurangan modal mereka meninggalkan pekerjaan itu. Hal ini menjadi keprihatinan seorang Ubaldus Ratuanak, termaauk juga kerajinan tangan ini. Banyak orang yang sudah menguasai kerajinan tangan ini tetapi tidak dapat dikembangkan.

" Kerajinan tangan ini sudah digemari sejumlah pengrajin tetapi tidak berkembang, misalkan pengrajin di desa Tumbur mereka mengerjakan patung dan ikat pinggang dari kayu hitam, mereka lebih cenderung ke patung karena pasaran ikat pinggang ini sangat terbatas, ini perlu diangkat selain juga membantu masyarakat bertumbuh secara ekonomis juga melestarikan sebagai bagian dari kearifan lokal budaya Kepulauan Tanimbar." jelas Ubaldus Ratuanak.

Oleh karena itu ini merupakan terobosan yang sudah dibuat Ubaldus Ratuanak dengan langkah awal melalui Bagian Hukum Sekertariat Daerah Kepulauan Tanimbar diterbitkan Keputusan Bupati Kabupaten Kepulauan Tanimbar dengan nomor 460421 tahun 2019 tentang penetapan ikat pinggang berbahan dasar kayu arang sebagai produk unggulan daerah Kabupatren Kepulauan Tanimbar. Selain ada produk yang lain sudah tetapkan ikat pinggang berbahan dasar kayu hitam sebagai produk unggulan daerah.

Regulasi ini kemudian diikuti dengan instruksi Bupati sebagai bentuk nyata membuka ruang pasar di Kepulauan Tanimbar bagi para pengrajin dan instruksi Bupati yang sudah ditetapkan sejak tanggal 26 Agustus 2019 lalu dengan nomor 431.2-47 tahun 2019 tentang penggunaan ikat pinggang berbahan dasar kayu arang sebagai bagian dari atribut berbusana khas daerah dilingkup Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

Ini membuka peluang pasar bagi para pengraji

pengrajin karena jika Aparatur Sipil Negara (ASN) menggunakan ikat pinggang berbahan dasar kayu hitam maka hasil pendapatan produksi akan meningkat. Bukan saja dikalangan ASN tetapi di dorong juga di lingkup pendidikan mulai dari guru, siswa ditingkat SD, SMP dan SMU, untuk memakai ikat pinggang berbahan dasar kayu hitam sebagai atribut berbusana.

Diharapkan kedepan dilingkup Pemerintah Daerah dapat membantu dengan regulasi dan kebijakan maupun program kegiatan pembangunan dan separuhnya diarahkan kepada produksivitas kerja untuk pengrajin yang sudah dibentuk didesa - desa. Pada kesempatan pertama dalam jangka pendek ini baru dibentuk beberapa kelompok kerja seperti di desa Tumbur, desa Sang liat Dol dan Rutan Saumlaki. Kepala Rutan meminta kepada Dinas Sosial membentuk dan memfasilitasi kelompok - kelompok ini untuk berproduksi sesuai motif ikat pinggang yang sudah dirancang.

Ini merupakan sentuhan kecil saja yang diharapkan punya dampak luas bagi masyarakat dalam rangka melestarikan kearifan lokal Kabupaten ini. Karena kayu hitam ada dikepulauan Tanimbar, sangat disayangkan kalau tidak dimanfaatkan. Jangan sampai sedikit demi sedikit kayu hitam ini dibawah keluar dari Kabupaten, dan ini merupakan ancaman bagi kita. Jika hal ini tidak di cegah maka kayu arang akan punah dan hilang dari bumi Tanimbar ini. (IS)

Berita Terkait
Populer