H. Djoni Lubis: Kreditur Harus Permudah Restrukturisasi Kredit di Masa New Normal

H. Djoni Lubis: Kreditur Harus Permudah Restrukturisasi Kredit di Masa New Normal
Rabu, 05 Ags 2020  12:51   |   Dibaca: 1,226

Pandemi covid-19 menimbulkan dampak sangat serius pada perekonomian hampir di semua, tidak sedikit usaha yang mengalami kesulitan bahkan sampai gulung tikar.

Permasalahan itu menimpa hampir di seluruh dunia, pertumbuhan ekonomi minus dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat minus 5,32% di kuartal II tahun 2020.

Kondisi itu bukan main-main, dan hendaknya menjadi tanggungjawab seluruh elemen bangsa untuk bagaimana bisa menumbuhkan perekonomian kembali setelah pemerintah menetapkan kebijakan “New Normal”.

“New normal itu berarti belum normal, baru mau kembali melakukan aktifitas secara normal dengan menyesuaikan kondisi yang ada di masa pandemi corona. Mulai berusaha, mulai berkantor, mulai ini itu. Catat ya, baru mulai,” kata Ketua Umum Lembaga Aliansi Indonesia (LAI) H. Djoni Lubis di kantor DPP LAI di sela-sela aktifitasnya.

Yang namanya baru mulai, menurut H. Djoni Lubis, berarti banyak pelaku usaha yang masih dalam kondisi ‘merangkak’ agar bisa kembali perekonomiannya normal.

Padahal, imbuh Ketua Umum LAI, pelaku usaha rata-rata memiliki pinjaman baik berupa pinjaman dana maupun kendaraan operasional.

“Di sinilah permasalahannya. Ketika para pelaku usaha baru mulai ‘merangkak’ sudah terbebani dengan pembayaran angsuran seperti saat kondisi sebelum pandemi,” ujarnya.

Untuk itu H. Djoni Lubis meminta para kreditur baik itu bank, leasing/finance maupun koperasi simpan pinjam, agar tidak terlalu menekan para debitur yang sedang berusaha untuk kembali bangkit.

“Kalau baru mau bangkit sudah ditekan, ya bukannya bangkit malah makin nyungsep,” imbuhnya.

H. Djoni Lubis meminta pihak kreditur agar mempermudah bahkan membantu para debitur dalam restrukturisasi kredit.

“Restrukturisasi kredit itu di antaranya ya perpanjangan waktu kredit, penurunan suku bunga, pengurangan tunggakan baik pokok maupun bunga,” jelasnya.

Kondisi perekonomian akibat dampak pandemi corona itu bukan hal yang diinginkan oleh pihak manapun, sehingga bagaimana agar perekomian bisa pulih menjadi tanggung jawab bersama.

“Perbankan, kreditur, jangan egois, jangan bersikap nggak mau rugi. Karena kita semua rugi dalam kondisi seperti ini. Kalau perekonomian terus mandeg akibat para pelaku usaha terus mengalami kesulitan, yang rugi juga kita semua, bangsa dan negara,” kata dia.

Ketua Umum LAI itu juga meminta kepada OJK agar makin ketat mengawasi para kreditur.

“Yang terbukti nakal dan menekan-nekan beri sanksi tegas, kalau perlu cabut izinnya. Aliansi Indonesia akan membantu melaporkan kreditur-kreditur yang seperti itu,” pungkasnya.

Berita Terkait
Populer