Falsafah “Mikul Duwur Mendem Jero”, Dibalik Ziarah ke Makam Presiden RI Ke-2

Falsafah “Mikul Duwur Mendem Jero”, Dibalik Ziarah ke Makam Presiden RI Ke-2
Rabu, 18 Mar 2020  16:42   |   Dibaca: 1,654

Jumat, 21 Februari 2020 Ketua Umum Aliansi Indonesia (AI) melakukan ziarah ke makam Presiden RI ke-2 (alm) Jenderal TNI (Purn) Soeharto dan (alm) Ibu Tien Soeharto di Astana Giri Bangun, Karanganyar, Jawa Tengah.

H. Djoni Lubis mengatakan ziarah ke makam secara umum adalah aktifitas yang sangat dianjurkan oleh agama, yaitu untuk mengingat mati serta mendoakan yang sudah meninggal.

“Secara umum seperti itu, untuk mengingat bahwa semua anak manusia pada akhirnya akan mati. Sehingga selama hidup di dunia, mumpung masih diberi kesempatan agar memperbaiki diri, memperbanyak amal sholeh baik habluminallah maupun habluminnaas,” ujarnya.

Tanpa mengingat mati yang merupakan awal menuju hari akhir, kata Ketua Umum AI itu, manusia tidak akan punya arah di dunia sehingga lebih mudah terjebak hidup menuruti hawa nafsunya.

“Itu secara umum, kalau ini ziarah ke makam Pak Harto dan Ibu Tien, karena untuk mengenang jejak-jejak langkah beliau terutama selama memimpin Negara Republik Indonesia selama 32 tahun,” imbuhnya.

Suka atau tidak suka, Soeharto adalah Presiden RI ke-2 yang berarti juga pernah menjadi pemimpin bangsa dan negara ini.

“Tentu banyak yang bisa kita teladani baik dari Pak Harto maupun Ibu Tien. Banyak yang bisa kita ambil sebagai pelajaran, baik sebagai pribadi, sebagai masyarakat maupun untuk bangsa dan negara,” paparnya.

Karena Soeharto pernah menjadi pemimpin di negeri ini, menurut H. Djoni Lubis, sikap yang tepat adalah sesuai falsafah Jawa yaitu “mikul duwur mendem jero”.

“Mikul duwur itu artinya yang menjunjung tinggi, mengingat jasa-jasa dan kebaikannya, meneladani semua yang baik,” kata dia.

Sedangkan “mendem jero” maknanya mengubur dalam-dalam, memaafkan semua kesalahan dan kekeliruannya, baik sebagai pribadi maupun sebagai pemimpin.

“Tidak ada manusia yang sempurna, semua memiliki kebaikan dan keburukan, semua pernah melakukan hal yang benar tapi juga pernah melakukan kesalahan,” lanjut H. Djoni Lubis.

Keburukan, kekeliruan dan kesalahan itulah yang dikubur dalam-dalam, dimaafkan sebagai sesama manusia. Karena jika keburukan dan kesalahan itu yang diingat serta dibesar-besarkan, menurutnya, hanya akan melahir hujatan-hujatan, kebencian maupun dendam.

Jika hal seperti itu terus dibiarkan maka bangsa dan negara ini hanya akan terus disibukkan dengan kecurigaan, su’uzhon (prasangka buruk) dan saling bermusuhan, yang akibat lebih jauh bisa menyebabkan disintegrasi bangsa, bisa mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Stop, sudahi sampai di situ !!! Sekali lagi, terlepas dari kesalahan-kesalahannya, jasa-jasa Pak Harto terhadap bangsa Indonesia tak bisa dipungkiri sangatlah besar. Ayo kita ambil semua yang baik untuk diteladani dan dilanjutkan, maafkan dan tinggalkan yang buruk,” ajaknya.

Dalam ziarah tersebut Ketua Umum didampingi oleh puteranya Rahmat Prabowo, Staf Khusus Ketua Umum AI Brigjen TNI (Purn) Siswo Meindaryanto, Staf Khusus Ketua Umum AI Agus, Perwakilan Media AI di Solo Raya Topan, serta ajudan-ajudan H. Djoni Lubis.

Berita Terkait
Populer
5
Kamis, 25 Jun 2020  13:27
7
Kamis, 25 Jun 2020  15:55